Potensi Rumah Sakit Syariah di Indonesia

“Umat Islam kini tidak perlu risau lagi, dengan hadirnya rumah sakit yang disertifikasi syariah oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) – Majelis Ulama Indonesia (MUI),” ujar Masyhudi.

 

“Ini adalah yang pertama di Dunia”, ujar KH Ma’ruf Amin. “Alhamdulillah, umat Islam dan bangsa Indonesia sepatutnya menghaturkan rasa syukur kehadirat Allah Swt, dalam ikhtiar mewujudkan
rumah sakit bersertifikasi syariah secara menyeluruh dari semua aspek,” kata Ketua Umum Majelis Upaya Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) Masyhudi dalam keterangan pers yang diterima Wartapilihan.com, Rabu (11/4).

 

Hal ini digenapkan, dengan hadirnya IHEX, gelaran pertama Konferensi dan Expo International Islamic Healthcare, di Jakarta, yang berlangsung tanggal 10-12 April 2018. Dalam kegiatannya, MUKISI mengusung tema “Bangkitkan Rumah Sakit Syariah di Nusantara melalui Konsolidasi Potensi Ummat”.

 

Dalam 3 hari ke depan, MUKISI menyelenggarakan kegiatan berisikan Seminar, workshop, expo alat kesehatan dan produk halal, yang
disempurnakan dengan pertemuan Nasional Mukisi, Pertemuan Tahunan Indonesia Islamic Medical Association (IIMA) dari 3 organisasi MUKISI, PROKAMI (Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia) dan FOKI (Forum Kedokteran Islam Indonesia).

 

“Umat Islam kini tidak perlu risau lagi, dengan hadirnya rumah sakit yang disertifikasi syariah oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) – Majelis Ulama Indonesia (MUI),” ujar Masyhudi.

 

Pada konferensi internasional pertama ini, dengan ijin dan karunia ALLAH SWT, telah disertifikasi 10 rumah sakit syariah di Indonesia yakni (1) RS Islam Sultan Agung Semarang, (2) RS Nurhidayah Bantul Yogyakarta, (3) RS PKU Wonosobo, (4) RS Sari Asih Ciledug, (5) RS Sari Asih Sangiang, (6) RS Islam Sari Asih Arrahmah Tangerang, (7) RS Amal Sehat Wonogiri, (8) RS Muhammadiyah Lamongan, (9) RS PKU Yogyakarta, (10) RSI Yogyakarta PDHI.

 

Masyhudi menuturkan, diperkirakan hingga akhir tahun 2018 insya ALLAH akan ada 30 rumah sakit tersertifikasi syariah. “Sertifikasi Rumah Sakit Syariah merupakan perwujudan dari semangat untuk menjadi ummat terbaik, khairu ummah, bahwa rumah sakit yang didasari oleh semangat menegakkan syariah memiliki added value, dimana dia bukan hanya memenuhi standar quality dan patient safety yang dipersyaratkan oleh komisi akeditasi rumah sakit (KARS), namun lebih dari itu, ia pun memenuhi kriteria secara syariah, yang diuraikan menjadi 173 elemen penilaian dalam standar sertifikasi rumah sakit syariah,” paparnya.

 

Menurutnya, potensi ummat Islam di Indonesia berkembang sangat pesat, menjadikan sentral perhatian dunia Islam dengan hadirnya 1st IHEX, dan berkembangnya sertifikasi rumah sakit syariah. Dunia Islam menanti dan berharap agar cepat berkembang, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga negara lain di dunia.

 

Konferensi yang juga mensosialisasikan sertifikasi rumah sakit syariah yang pertama di dunia ini, dibuka oleh Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, yang dihadiri peserta dari dalam dan luar negeri, dengan pembicara nasional dan Internasional, akan memantapkan bangkitnya rumah sakit yang berlandaskan syariah untuk saling
memuliakan, dunia dan akhirat.

 

Agenda Kegiatan konsolidasi umat Islam melalui Konferensi Internasional seperti ini akan dilakukan setiap tahun di Indonesia yang dinantikan oleh umat Islam seduania melalui persaudaraan kesehatan Islam,” tandasnya.

Ahmad Zuhdi

Sumber : https://www.wartapilihan.com/

STRATEGI RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI KRISIS PUBLIC RELATIONS MENURUT PERSPEKTIF FIQH MUAMALAT (Bagian 2)

STRATEGI RUMAH SAKIT  DALAM MENGHADAPI KRISIS PUBLIC RELATIONS  MENURUT  PERSPEKTIF
FIQH MUAMALAT 
 
( Bagian 2 )
SAFARI HASAN,
 Konsultan Rumah Sakit Indonesia (KaRSI), Jalan Ursa Minor 20 Malang,
Abstrak
 Rumah sakit adalah suatu organisasi yang sangat kompleks karena bersifat padat modal, padat tenaga kerja, padat teknologi dan juga padat masalah. Rumah sakit merupakan tempat promosi kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan penderita yang dilakukan secara multi disiplin oleh berbagai kelompok profesional terdidik dan terlatih menyangkut disiplin kedokteran, hukum, ekonomi, sosial, dan manajemen. Keluhan konsumenterhadap rumah sakit, dapat menimbulkan permasalahan bagi rumah sakit yang dikenal sebagai krisis public relations. Krisis dapat didefinisikan sebagai sebuah kejadian luar biasa atau rangkaian peristiwa yang mempengaruhi integritas produk, reputasi stabilitas keuangan organisasi, atau kondisi kesehatan dari pekerja, komunitas, atau publik secara luas. Langkah pengelolaan krisis PR meliputi (1) membuat  rancangan strategi pengelolaan krisis Kehumasan (aktiitas persiapan, melakukan briefing, mempersiapkan holding statement, mempersiapkan daftar jawaban, mempersiapkan strategi media perantara.), (2) tahap implementasi (melakukan komunikasi bertingkat ,menentukan alternative lokasi, memperbarui holding statements). Aktifitas Manajemen Public Relations ini dapat  dikaji secara Fiqh Muamalat melalui  Hukum  Shulhu atau mediasi.

Kata Kunci: rumah sakit, manajemen krisis public relations, fiqh muamalah,Shulhu


Peran Public Relations dalam mengatasi krisis
Krisis menimbulkan dampak langsung dan tidak langsung bagi rumah sakit, diantaranya adalah rusaknya citra, turunnya kunjungan pasien, berhentinya layanan, bahkan berujung pada kebangkrutan. Menurut Agustine[1], ada beberapa langkah yang harus ditempuh di dalam menagani krisis, yaitu; hindari krisis, siapkan perencanaan manajemen krisis, mengenali krisis, containing krisis, memecah krisis, dan mengambil keuntungan dari krisis.
Sementara itu, Muray (2001) menjelaskan bahwa manajemen krisis merupakan suatu pendekatan terstruktur dalam menghadapi krisis yang terjadi. Tujuannya adalah menempatkan suatu desain strategi komunikasi dimana informasi dapat disampaikan secara cepat dan tepat. Disamping itu juga bertujuan untuk mengurangi resiko sekecil mungkin dengan cara memperbaiki kesalahan informasi dan membantu mengurangi kerusakan yang ditimbulkan oleh krisis. Rencana manajemen krisis dimulai dengan melakukan identifikasi dari skenario-skenario krisis yang dapat menimpa perusahaan yang kemudian dijadikan suatu rancangan mekanisme komunikasi yang berguna untuk mengatur suatu krisis secara cepat, serta membantu karyawan dalam menentukan skala proritas masalah.   
Ada beberapa langkah yang disarankan Muray[2] dalam melaksanakan pengelolaan  krisis, diantaranya:
1.      Membuat  rancangan strategi  pengelolaan krisis.
 Adapun langkah yang ditempuh adalah identifikasi krisis yang potensial menimpa perusahaan dan pihak-pihak dimana saja yang akan terkena dampaknya baik krisis internal ataupun eksternal. Perencanaan harus dimulai dari suatu analisa terstruktur atas semua permasalahan yang mungkin akan dihadapi perusahaan. Pengamatan yang luas melakukan monitoring secara proaktif atas isu-isu berkembang memainkan peranan penting sebagai pelatihan awal. Hal ini akan membantu dalam mengidentifikasi ancaman yang mungkin terjadi dimasa akan datang, dan mereview apa yang menimpa perusahaan lain dengan karakteristik yang sama dengan institusi kita.
a.       Aktivitas persiapan (Preparation)
Persiapan yang dilakukan diantaranya adalah dengan mempersiapkan orang-orang yang berhak bicara mewakili institusi/perusahaan di masa krisis. Mereka memiliki wewenang untuk menjawab pertanyaan secara efektif dan memiliki keyakinan untuk mengatur suatu pengalaman yang mungkin dapat mendatangkan stress. Setelah itu buat rencana komunikasi bertingkat.
b.      Melakukan briefing.
Tujuan briefing adalah untuk memberikan informasi kepada tiap orang dalam perusahaan mengenai tanggungjawabnya masing-masing di masa krisis dan memastikan setiap orang mendapat pengarahan ulang mengenai masalah tersebut. Setiap orang yang terlibat dalam perencanaan komunikasi harus memahami peran mereka ketika krisis terjadi.
c.       Mempersiapkan holding statement
Tahapan selanjutnya adalah mempersiapkan pernyataan (statement) yang hendak disampaikan oleh juru bicara. Isi pernyataan sangat spesifik tergantung dari situasi krisis yang terjadi. Isinya secara umum adalah, pernyataan kepedulian perusahaan terhadap masalah yang terjadi, adanya upaya dari perusahaan untuk mengatasi masalah yang terjadi, serta akan memberikan informasi lebih lanjut jika dibutuhkan.
d.      Mempersiapkan daftar jawaban atas pertanyaan yang mungkin paling ditanyakan oleh publik dan media.
e.       Mempersiapkan strategi media perantara dimasa krisis.
Media memiliki peran penting disaat krisis, oleh karena itu sejak awal media harus dijadikan “sekutu” dengan beberapa langkah strategi; membuat daftar wartawan yang Akan dihubungi disaat krisis,mempersiapkan pers release, mempersiapkan profil perusahaan, persiapan pelatihan media relations, memberikan informasi kepada semua staf, membuat web site, simulasi krisis, melakukan review terhadap rencana pengelolaan manajemen krisis.
2.      Tahap Implementasi
a.       Melakukan komunikasi bertingkat  secepatnya
b.      Tentukan alternatif lokasi yang akan digunakan sebagai kantor public relations, jika gedung resmi perusahaan mengalami kerusakan karena krisis.
c.       Sambil memperkirakan skala dari krisis yang terjadi, instruksikan staf public relations (humas) untuk memperbarui “holding statement”dengan informasi terbaru mengenai krisis. Siapkan deadline untuk kemunculan informasi-informasi yang hendak ditampilkan ke publik. Jika diperlukan buatlah jadwal pers release yang harus diterbitkan. Secepatnya kirim pers release ke media dengan dilengkapi profil perusahaan. Sehingga semua perkembangan krisis dapat dikontrol dengan pemberian informasi secara berkesinambungan ke media, agar khalayak memIliki informasi terbaru yang akurat dan terpercaya.
Pengertian dan Hukum Shulhu
Pengertian Shulhu
Ash-Shulh berasal dari bahasa Arab yang berarti perdamaian, penghentian perselisihan, penghentian peperangan. Dalam kazanah keilmuan, ash-shulhu dikategorikan sebagai salah satu akad berupa perjanjian diantara dua orang yang berselisih atau berperkara untuk menyelesaikan perselisihan diantara keduanya. Dalam terminologi ilmu fiqih ash-shulhu memiliki pengertian perjanjian untuk menghilangkan polemik antar sesama lawan sebagai sarana mencapai kesepakatan antara orang-orang yang berselisih.[3]
 Misalnya seseorang menuduh orang lain mengambil suatu hak yang diklaimnya sebagai miliknya, lalu tertuduh mengakui karena ketidaktahuannya terhadap penuduh, kemudian tertuduh mengajak penuduh berdamai dengan tujuan menjauhi atau menghindari suatu permusuhan dan sumpah yang diwajibkan atas tertuduh yang menyangkal tuduhan.
Di dalam Ash-shulhu ini ada beberapa istilah yaitu: Masing-masing pihak yang mengadakan perdamaian dalam syariat Islam distilahkan musalih, sedangkan persoalan yang diperselisihkan di sebut musalih’anhu, dan perbuatan yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap pihak yang lain untuk mengaklhjiri pertingkaian/pertengkaran dinamakan dengan musalih’alaihi atau di sebut juga badalush shulh
Hukum Shulhu
Perdamaian dalam syariat Islam sangat dianjurkan. Sebab, dengan perdamaian akan terhindarlah kehancuran silaturahmi (hubungan kasih sayang) sekaligus permusuhan di antara pihak-pihak yang bersengketa akan dapat diakhiri.
Adapun dasar hukum anjuran diadakan perdamaian dapat dilihat dalam al-qur’an, sunah rasul dan ijma.
Al-qur’an menegaskan dalam surat al-Hujarat ayat 9 yang artinya “jika dua golongan orang beriman bertengkar damaikanlah mereka. Tapi jika salah satu dari kedua golongan berlaku aniaya terhadap yang lain maka perangilah orang yang aniaya sampai kembali kepada perintah Allah tapi jika ia telah kembali damaiakanlah keduanya dengan adil, dan bertindaklah benar. Sungguh Allah cinta akan orang yang bertindak adil (QS. Al-Hujurat : 9)”.
Mengenai hukum shulhu diungkapkan juga dalam berbagai hadits nabi, salah satunya yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan  Imam Tirmizi  yang artinya “perdamaian dibolehkan dikalangan  kaum muslimin, kecuali perdamaian menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang haram. Dan orang-orang islam (yang mengadakan perdamaian itu) bergantung pada syarat-syarat mereka (yang telah disepakati), selain syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram (HR. Ibnu Hibban dan Turmuzi)”.
Pesan terpenting yang dapat dicermati dari hadits di atas bahwa perdamaian merupakan sesuatu yang diizinkan selama tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran dasar keislaman. Untuk pencapaian dan perwujudan perdamaian, sama sekali tidak dibenarkan mengubah ketentuan hukum yang sudah tegas di dalam islam. Orang-orang islam yang terlibat di dalam perdamaian mesti mencermati agar kesepakatan perdamaian tidak berisikan hal-hal yang mengarah kepada pemutarbalikan hukum; yang halal menjadi haram atau sebaliknya.
Dasar hukum lain yang mengemukakan di adakannya perdamaian di antara para pihak-pihak yang bersengketa di dasarkan pada ijma.
Rukun dan Syarat Shulhu
a. Rukun Shulhu
Adapun yang menjadi rukun perdamaian adalah[4]:
1)   Mushalih, yaitu masing-masing pihak yang melakukan akad perdamaian untuk menghilangkan               permusuhan atau sengketa.
2)  Mushalih’anhu, yaitu persoalan-persoalan yang diperselisihkan atau disengketakan.
3) Mushalih ’alaih, ialah hal-hal yang dilakukan oleh salah satu pihak terhadap lawannya untuk                    memutuskan perselisihan. Hal ini disebut juga dengan istilah badal al-shulh.
4)  Shigat ijab dan Kabul di antara dua pihak yang melakukan akad perdamaian.
Ijab kabul dapat dilakukan dengan lafadz atau dengan apa saja yang menunjukan adanya ijab Kabul yang menimbulkan perdamaian, seperti perkataan: “Aku berdamai denganmu, kubayar utangku padamu yang lima puluh dengan seratus” dan pihak lain menjawab “ Telah aku terima”.
Dengan adanya perdamaian (al-shulh), penggugat berpegang kepada sesuatu yang disebut badal al-shulh dan tergugat tidak berhak meminta kembali dan menggugurkan gugatan, suaranya tidak didengar lagi.
Apabila rukun itu telah terpenuhi maka perdamaian di antara pihak-pihak yang bersengketa telah berlangsung. Dengan sendirinya dari perjanjian perdamaian itu lahirlah suatu ikatan hukum, yang masing-masing pihak untuk memenuhi / menunaikan pasal-pasal perjanjian perdamaian.
 
b. Syarat Shulhu
Adapun yang menjadi syarat sahnya suatu perjanjian perdamaian dapat diklasifikasikan kepada:
1) Menyangkut subyek, yaitu musalih (pihak-pihak yang mengadakan perjanjian   perdamaian)
Tentang subyek atau orang yang melakukan perdamaian haruslah orang yang cakap bertindak menurut hukum. Selain cakap bertindak menurut hukum, juga harus orang yang mempunyai kekuasaan atau mempunyai wewenang untuk melepaskan haknya atas hal-hal yang dimaksudkan dalam perdamaian tersebut.
Adapun orang yang cakap bertindak menurut hukum dan mempunyai kekuasaan atau wewenang itu seperti :
a. Wali, atas harta benda orang yang berada di bawah perwaliannya.
b. Pengampu, atas harta benda orang yang berada di bawah pengampuannya
c. Nazir (pengawas) wakaf, atas hak milik wakaf yang berada di bawah pengawasannya.
2) Menyangkut obyek perdamaian
Tentang objek perdamaian haruslah memenuihi ketentuan sebagai berikut :
a. Untuk harta (dapat berupa benda berwujud seperti tanah dan dapat juga benda tidak berwujud seperti hak intelektual) yang dapat dinilai atau dihargai, dapat diserah terimakan, dan bermanfaat.
b. Dapat diketahui secara jelas sehingga tidak melahirkan kesamaran dan ketidak jelasan, yang pada akhirnya dapat pula melahirkan pertikaian yang baru pada objek yang sama.
3) Persoalan yang boleh di damaikan
Adapun persoalan atau pertikaian yang boleh atau dapat di damaikan adalah hanyalah sebatas menyangkut hal-hal berikut :
a. Pertikaian itu berbentuk harta yang dapat di nilai
b. Pertikaian menyangkut hal manusia yang dapat diganti
Dengan kata lain, perjanjian perdamaian hanya sebatas persoalan-persoalan muamalah (hukum privat). Sedangkan persoalan-persoalan yang menyangkut hak ALLAH tidak dapat di lakukan perdamaian.
Macam-macam Shulhu
 Secara garis besar ash-shulhu terbagi atas empat macam, yaitu:
a)       Perdamaian antara kaum muslimin dengan masyarakat nonmuslim, yaitu membuat perjanjian untuk meletakkan senjata dalam masa tertentu (dewasa ini dikenal dengan istilah gencatan senjata), secara bebas atau dengan jalan mengganti kerugian yang diatur dalam undang-undang yang disepakati dua belah pihak.
b)       Perdamaian antara penguasa (imam) dengan pemberontak, yakni membuat perjanjian-perjanjian atau peraturan-peraturan mengenai keamanan dalam Negara yang harus ditaati, lengkapnya dapat dilihat dalam pembahasan khusus tentang bughat.
c)       Perdamaian antara suami dan istri dalam sebuah keluarga, yaitu membuat perjanjian dan aturan-aturan pembagian nafkah, masalah durhaka, serta dalam masalah menyerahkan haknya kepada suaminya manakala terjadi perselisihan.
d)       Perdamaian antara para pihak yang melakukan transaksi (perdamaian dalam mu’amalat atau pelayanan kesehatan), yaitu membentuk perdamaian dalam msaalah yang ada kaitannya dengan perselisihan-perselisihan yang terjadi dalam  masalah  mua’malat.
Hikmah Shulhu
Dalam menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi antara ummat manusia, Islam telah memberikan beberapa konsep dasar untuk membantu menyelesaikan sengketa yang terjadi. Penyelesaian masalah ini dapat melalui shulhu (perdamaian).
Imam Ash-Shan’ani menerangkan hadits di atas dengan berkata :
قَدْ قَسَّمَ الْعُلَمَاءُ الصُّلْحَ أَقْسَامًا، صُلْحُ الْمُسْلِمِ مَعَ الْكَافِرِ، وَالصُّلْحُ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ وَالصُّلْحُ بَيْنَ الْفِئَةِ الْبَاغِيَةِ وَالْعَادِلَةِ وَالصُّلْحُ بَيْنَ الْمُتَقَاضِيَيْنِ وَالصُّلْحُ فِي الْجِرَاحِ كَالْعَفْوِ عَلَى مَالٍ وَالصُّلْحُ لِقَطْعِ الْخُصُومَةِ إذَا وَقَعَتْ فِي الْأَمْلَاكِ وَالْحُقُوقِ وَهَذَا الْقِسْمُ هُوَ الْمُرَادُ هُنَا وَهُوَ الَّذِي يَذْكُرُهُ الْفُقَهَاءُ فِي بَابِ الصُّلْحِ
“Para ulama telah membagi ash-shulhu (perdamaian) menjadi beberapa macam; perdamaian antara muslim dan kafir, perdamaian antara suami isteri, perdamaian antara kelompok yang bughat dan kelompok yang adil, perdamaian antara dua orang yang bertahkim kepada qadhi (hakim), perdamaian dalam masalah tindak pelukaan seperti pemberian maaf untuk sanksi harta yang mestinya diberikan, dan perdamaian untuk memberikan sejumlah harta kepada lawan sengketa jika terjadi pada harta milik bersama (amlaak) dan hak-hak. Pembagian inilah yang dimaksud di sini, yakni pembagian yang disebut oleh para fuqoha pada bab ash-shulhu (perdamaian).” (Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, 4/247).
Secara ringkas hikmah ash-shulhu dapat mengakibatkan penyelesaian suatu masalah dengan jalan yang sama-sama adil bagi kedua belah pihak dan tetap berada dijalan allah serta syariat islam. Serta melindungi seorang muslim dari penyakit hati terutama iri dan dengki juga menghindari seseorang dari sikap curiga terhadap lawannya dalam suatu sengketa atau masalah.
Kesimpulan
Rumah Sakit merupakan institusi  pelayanan kesehatan yang padat modal, padat karya dan  padat masalah. Salah satu permasalahan diantaranya dalah adanya keluhan dari pasien yang berdampak pada buruknya citra rumah sakit yang dikenal sebagai krisis public relations.  Untuk mengatasi krisis public relationsmaka rumah sakit melaksanakan  penerapan strategi krisis public relations.
Tujuan dari penerapan strategi krisis public relations oleh institusi rumah sakit  adalah untuk memberikan pelayanan, kepada publik, menjaga hubungan baik dengan publik serta mempertahankan citra institusi. Adapun tahapan krisis public relatios yang harus dihadapi  meliputi  prodomal, akut, kronik dan resolusi.
 Upaya yang ditempuh dalam tahap persiapan strategi krisis public relations oleh rumah sakit diantaranya: melakukan aktivitas persiapan, melaksanakan briefing, mempersiapkan statement, mempersiapkan jawaban serta melaksanakan strategi media perantara. Dalam tahap implementasi dengan melaksanakan strategi komunikasi bertingkat, mempersiapkan alternatif lokasi  untuk kantor humas dan mengeluarkan statement secara berkala.
Konsep strategi  public relations di rumah sakit dalam menghadapi keluhan dari pasien dalam fiqh muamalah dikienbal sebagai Shulhu. Secara ringkas hikmah ash-shulhu dapat mengakibatkan penyelesaian suatu masalah dengan jalan yang sama-sama adil bagi kedua belah pihak dan tetap berada dijalan allah serta syariat islam. Serta melindungi seorang muslim dari penyakit hati terutama iri dan dengki juga menghindari seseorang dari sikap curiga terhadap lawannya dalam suatu sengketa atau masalah.
Strategi krisis public relations harus dimiliki oleh  setiap organisasi institusi rumah sakit.
a.       Penyusunan strategi krisis public relations sebaiknya disusun secara rinci dalam bentuk prosedur tetap sehingga memudahkan dalam implementasi di lapangan.
b.      Laksanakan simulasi secara berkala untuk meningkatkan  kemampuan dan kehandalan perseorangan dan tim dalam institusi dalam mengatasi krisis public relations.

c.       Harus dilaksanakan evaluasi secara berkala untuk mencari kelemahan strategi krisis public relations yang ada dan dilaksanakan  upaya perbaikan  secara berkelanjutan


 

DAFTAR PUSTAKA
Agustine. 2000. Harvard Business Review on Crisis Management, Harvard Business School Press, USA
 Christine Daymon, I. Holloway. 2002. Qualitative Research Methods in Public relations and Marketing Communication. Cahya Wiratama (penterjemah). 2008. Metode-Metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communications, PT. Bentang Pustaka, Jogjakarta.
 Elton,L. 2007. Pengaruh Pemberitaan Surat Kabar Terhadap Persepsi Masyarakat Pengguna Jasa Transportasi Udara di Surabaya (Kasus Studi Kecelakaan Pesawat Adam Air), Jurnal llmiah Scriptura, Volume 1(2): p. 98-110.
 Fearn dan K. Banks. 1996. Crisis Communication: A Case book Approach, Lawrence Erlbarum, Mahwah NJ.
 Fink, S. 1986. Crisis Management: Planning for the Inevitable, Amacom, New York
 Griffin, R.W. 2002. Management 7th, published by Houghton Mifflin Company. Gina Gania; editor. W.C. Kristiaji. 2009. Manajemen. Edisi 7 , Erlangga, Jakarta
 Hammersley, M. 1998. Reading ethnographic research. 2nd ed., Longman,London UK:
 Handoko, T.H., 1998. Manajemen  edisi Kedua, BPFE Yogyakarta, Jogjakarta.
 Iriantara, Y. 2007. Community Relations: Konsep dan Aplikasi, Simbiosa Rekatama Media,Bandung
 Jacobalis, S. 2002. Public Relations Rumah Sakit, Seminar PERSI.
 Kasali, R. 2003. Manajemen Publik Relations., Pusat Studi Pengembangan Kawasan, Jakarta.
 Kotler, P. 1997. Marketing Management, ninth edition, published by Prentice Hall.Inc. Hendra Teguh, Ronny Antonius Rusli (penterjemah). 2007. Manajemen Pemasaran., Prenhallindo, Jakarta
 Kusumastuti, F.2004. Dasar-dasar hubungan Masyarakat, Edisi 2, Ghalia Indonesia,Jakarta.
 Lincoln, Y.S. danE.G. Guba.1985. Naturalistic Inquiry,: Sage, Beverly Hills CA.
 Lupiyoadi, R. dan A. Hamdani. 2009. Manajamemen Pemasaran Jasa, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta.
 Maxwell, J.A. 1996. Qualitative Research Design: An Interactive Approach,: Sage, Thousand Oaks CA.
 Miles and Huberman.1994. Qualitative Data Analysis, 2nd ed,Sage Publication, London.
 Morissan.2008. Manajemen Public Relation: Strategi Menjadi Humas Profesional., Prenada Media Group, Jakarta.
 Mulyadi dan J. Setyawan. 2001. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen:  Sistem Pelipatganda Kinerja Perusahaan,Edisi 2, Salemba Empat,  Jakarta.
 Muray, A. 2001. Teach Yourself: Public relations, Hodder and Stoughton Educational, Great Britain.
 Nova, F. 2009. Crisis Public Relations: Bagaimana Public Relations Menangani Krisis Perusahan,  Grasindo,Jakarta
 Pearce, J.A. and R.B. Robinson. 2007. Strategic Management, Implemnetation and Control 10th edition, The Mc Graw Hill Companies, Inc. Yanivi Bachtiar dan Chistine (penterjemah). 2008. Manajemen Strategis: Formulasi, Implementasi dan Pengendalian. Edisi 10, Salemba Empat, Jakarta.
 Rachmat, J. 1985. Metode Penelitian Komunikasi., Remaja Rosda Karya, Bandung.
 Rivers, W., J.W. Jensen, dan T. Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern. 2004, Jakarta: Prenada Media.
 Robbins, S.P. 2002. Essensials of Organizational Behaviour, 5thed, Prentice Hall.Inc. Halida, Dewi Sartika (penterjemah) Prinsip-Prinsip perilaku Organisasi, Edisi 5, Erlangga. Jakarta.
 Rosyati dan L.L.A. Hidayati, 2004. Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan Balanced Scorecard: Studi Kasus Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Magelang. Jurnal Analisis Bisnis dan Ekonomi,. Vol.2(No.1),halaman 84-103.
 Ruslan, R. 1999., Praktek dan Solusi Public Relations; dalam Situasi Krisis dan Pemulihan Citra,  Ghalia Indonesia, Jakarta.
 Ruslan, R. 2005. Kampanye Public Relations., Jakarta: Rajawali Pers.
 Ruslan, R. 2006. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Rajawali Grafindo Persada Jakarta.
 Ruslan, R. 2008. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi., Rajawali Pers, Jakarta:
 Sanzo, M.J,A.B. del Rio, V. Iglesias, R. Vazquez. 2003. Attitude and satisfaction in a traditional food product. British Food Journal,. vol 105 (10/11),page 771-788.
 Seitel, F.1992. The Practice of Public Relations., Mac Millan Publishing Co., New York
 Soemirat, S. dan. E.Ardianto . 2007. Dasar-Dasar Public Relations., PT. Rosdakarya, Bandung.
 Tambunan, R.M. 2008. Pedoman Penyusunan Standard Operating Procedures., MAIESTAS Publishing,  Jakarta.
 Wahyudi, A.S. 1996. Manajemen Strategik :Pengantar Proses Berfikir Strategik,Binarupa Aksara, Jakarta.
 Wilcox, D.L., P.H. Ault, and W.K. Agee.  1992. Public Relations Strategies and tactics., Harper Collins Publisher Inc,  New York.

 


[1]Agustine. 2000. Harvard Business Review on Crisis Management, Harvard Business School Press, USA
[2]Muray, A. 2001. Teach Yourself: Public relations, Hodder and Stoughton Educational,Great Britain.
[3] Syaikh Jabir al-Jaza’iri, Abu Bakar. 2008. Minhajul Muslim. Jakarta : Darul Haq
[4] Dr. H. Hendi Suhendi, M.Si. 2002. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

STRATEGI RUMAH SAKIT DALAM MENGHADAPI KRISIS PUBLIC RELATIONS MENURUT PERSPEKTIF FIQH MUAMALAT





STRATEGI RUMAH SAKIT  DALAM MENGHADAPI KRISIS PUBLIC RELATIONS  MENURUT  PERSPEKTIF

FIQH MUAMALAT

( Bagian 1 )
SAFARI HASAN,
 Konsultan Rumah Sakit Indonesia (KaRSI), Jalan Ursa Minor 20 Malang,
Abstrak
 Rumah sakit adalah suatu organisasi yang sangat kompleks karena bersifat padat modal, padat tenaga kerja, padat teknologi dan juga padat masalah. Rumah sakit merupakan tempat promosi kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan penderita yang dilakukan secara multi disiplin oleh berbagai kelompok profesional terdidik dan terlatih menyangkut disiplin kedokteran, hukum, ekonomi, sosial, dan manajemen. Keluhan konsumenterhadap rumah sakit, dapat menimbulkan permasalahan bagi rumah sakit yang dikenal sebagai krisis public relations. Krisis dapat didefinisikan sebagai sebuah kejadian luar biasa atau rangkaian peristiwa yang mempengaruhi integritas produk, reputasi stabilitas keuangan organisasi, atau kondisi kesehatan dari pekerja, komunitas, atau publik secara luas. Langkah pengelolaan krisis PR meliputi (1) membuat  rancangan strategi pengelolaan krisis Kehumasan (aktiitas persiapan, melakukan briefing, mempersiapkan holding statement, mempersiapkan daftar jawaban, mempersiapkan strategi media perantara.), (2) tahap implementasi (melakukan komunikasi bertingkat ,menentukan alternative lokasi, memperbarui holding statements). Aktifitas Manajemen Public Relations ini dapat  dikaji secara Fiqh Muamalat melalui  Hukum  Shulhu atau mediasi.
Kata Kunci: rumah sakit, manajemen krisis public relations, fiqh muamalah,Shulhu
PENDAHULUAN
Rumah sakit adalah suatu organisasi yang sangat kompleks karena bersifat padat modal, padat tenaga kerja, padat teknologi dan juga padat masalah Rumah sakit merupakan tempat promosi kesehatan, pencegahan dan penyembuhan penyakit, peningkatan dan pemulihan kesehatan penderita yang dilakukan secara multi disiplin oleh berbagai kelompok profesional terdidik dan terlatih menyangkut disiplin kedokteran, hukum, ekonomi, sosial, dan manajemen. Keadaan yang menggambarkan bahwa rumah sakit adalah organisasi yang kompleks dan multi fungsi diatas menyebabkan fungsi sosial rumah sakit lebih dominan[1].
Globalisasi dan pasar bebas menjadikan rumah sakit dewasa ini bukan hanya sekedar sebagai lembaga sosial yang bergerak dibidang pelayanan kesehatan, tetapi lebih jauh lagi bergerak kearah industri pelayanan jasa di bidang kesehatan. Kondisi ini memaksa rumah sakit untuk menerapkan konsep dan strategi bisnis yang profesional di segala bidang, termasuk pada bidang public relations.
Keluhan konsumen terhadap rumah sakit, dapat menimbulkan permasalahan bagi rumah sakit yang dikenal sebagai krisis public relations. Krisis dapat didefinisikan sebagai sebuah kejadian luar biasa atau rangkaian peristiwa yang mempengaruhi integritas produk, reputasi stabilitas keuangan organisasi, atau kondisi kesehatan dari pekerja, komunitas, atau publik secara luas.[2] Secara umum krisis public relations dapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana peristiwa, rumor, atau informasi akan memberi pengaruh buruk terhadap reputasi, citra, dan kredibilitas rumah sakit [3].
Perubahan citra akan berdampak pada perubahan sikap dan perilaku konsumen dalam melaksanakan pembelian produk, karena konsumen cenderung menghindar dari memanfaatkan produk yang memiliki citra negatif[4].. Oleh karena itu penanganan krisis public relations di rumah sakit  merupakan suatu hal yang penting diupayakan, mengingat krisis public relations bisa menimbulkan citra negatif bagi rumah sakit dan berpengaruh pula pada sikap dan perilaku konsumen rumah sakit dalam memanfaatkan jasa rumah sakit.
Secara umum penyebab krisis public relations adalah faktor ketidakpuasan pasien terhadap pelayananan rumah sakit. Menurut Kotler[5]; Kepuasan dan ketidakpuasan konsumen atas produk akan berpengaruh pada pola perilaku selanjutnya, apabila konsumen puas maka akan cenderung untruk membeli produk yang sama serta memberikan referensi yang baik suatu produk kepada orang lain. Namun jika tidak puas akan suatu layanan, konsumen akan mengembalikan produk atau menempuh tindakan lain yang lebih ekstrim.

 Sumber : Kotler (1997)

Gambar. 1
Alternatif tindakan Konsumen Akibat Ketidakpuasan

Dalam konteks rumah sakit pendapat Kotler diatas dapat dideskripsikan sebagai berikut; Pasien yang puas terhadap pelayanan rumah sakit cenderung untuk kembali berkunjung ke rumah sakit serta memberikan referensi yang baik atas pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada orang lain. Pasien atau keluarga pasien yang tidak puas terhadap pelayanan rumah sakit, memiliki peluang mengambil tindakan pribadi berupa memberikan referensi negatif atas pelayanan rumah sakit atau melakukan pengaduan secara langsung ke rumah sakit, melapor ke Lembaga Swadaya Masyarakat, media masa, lembaga perwakilan rakyat, instansi terkait, serta lembaga perlindungan konsumen. Pasien dan keluarganya dapat melaksanakan tindakan yang bersifat umum misalnya menuntut ganti rugi secara langsung ke rumah sakit, menempuh jalur hukum, memutuskan untuk berhenti memanfaatkan jasa atau memboikot rumah sakit tertentu atau memboikot tenaga medis dan paramedis yang memberikan pelayanan jasa kesehatan tersebut.
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam dan merupakan populasi Muslim terbesar di dunia. idealnya menjalankan aktivitas bisnis  dan  pelayanan kesehatan sesuai dengan prinsip syariah. Oleh karena itu  kajian Strategi rumah sakit dalam menghadapi krisis public relations menurut perspektif fiqh muamalah perlu dilakukan dalam memperkaya wacana keilmuan di bidang  Hukum  Ekonomi Islam  beserta  implementasinya.
 PEMBAHASAN
Strategi bagi manajer adalah rencana berskala besar dengan berorientasi masa depan guna berinteraksi dengan kondisi persaingan untuk mencapai tujuan perusahaan. Strategi merupakan rencana permainan perusahaan, meski tidak merinci seluruh pemanfaatan (manusia, keuangan, dan material) di masa depan, namun rencana tersebut menjadi kerangka bagi keputusan manajerial. Strategi mencerminkan pengetahuan perusahaan mengenai bagaimana, kapan, dan dimana, perusahaan akan bersaing, dengan siapa perusahaan sebaiknya bersaing dan untuk tujuan apa perusahaan harus bersaing [6]
Sumber : Pearce dan Robinson (2008))
 Gambar 2
 Model Manajemen Strategis Pearce dan Robinson
Wahyudi[7]  menjelaskan, strategi memilki beberapa ciri antara lain; menyatu (unified) yaitu menyatukan seluruh bagian-bagian dalam perusahaan, menyeluruh (comprehensive) yaitu mencakup seluruh aspek dalam perusahaan, integral (integrated) yaitu seluruh strategi akan cocok atau sesuai dengan seluruh tingkatan dalam perusahaan.

 Pengertian Public Relations
Terdapat banyak definisi tentang public relations, biasa disingkat PR atau di Indonesia lebih dikenal dengan istilah Humas, salah satunya adalah menurut International Public Relations Association (IPRA). Menurut IPRA, public relations  adalah[8]:
“ fungsi manajemen, dari karakter yang terencana dan berkesinambungan, dan mempertahankan pemahaman, simpati dan dukungan dari pihak yang diinginkannya dengan mengevaluasi pendapat publik dalam rangka mengkorelasikan sejauh mungkin kebijakan dan prosedur mereka sendiri untuk mencapai melalui rencana dan penyebaran informasi
            Definisi public relations yang lain berasal dari pertemuan para pakar Humas pada bulan Agustus 1978 yang dikenal sebagai The Statement of Mexico. Definisi tersebut berbunyi:
Praktek public relations adalah seni dan ilmu pengetahuan social yang dapat digunakan untuk menganalisa kecenderungan, memprediksi konsekwensinya, menasehati pemimpin organisasi dan melaksanakan program terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik untuk kepentingan organisasi maupun kepentingan publik atau umum[9].
Adapun definisi public relations menurut Harlow[10] setelah mengkaji 472 definisi humas adalah:
 “Public relations adalah fungsi manajemen yang khas dan mendukung pembinaan, pemeliharaan jalur bersama antara organisasi dengan publiknya menyangkut aktivitas komunikasi, saling pengertian, penerimaan, kerjasama, melibatkan manajemen dalam menghadapi permasalahan, menmbantu manajemen dalam menghadapi opini publik, mendukung manajemen dalam mengikuti dan memanfaatkan perubahan  secara efektif, bertindak sebagai sistem peringatan dini, dalam mengantisipasi kecenderungan penggunaan penelitian serta teknik komunikasi yang sehat dan etis sebagai sarana utama”.
            Menurut Jacobalis[11] dalam seminar PERSI dengan tema “Public Relations Rumah Sakit”, PR rumah sakit adalah; upaya yang disengaja, direncanakan dan berlanjut untuk menciptakan komunikasi dua arah antara rumah sakit dengan publik (khalayaknya) dengan tujuan mempertahankan saling pengertian, kerjasama, memenuhi kepentingan bersama, dan secara keseluruhan meningkatkan citra rumah sakit. Adapun publik (khalayak) rumah sakit meliputi khalayak eksternal: masyarakat umum, pelanggan (pasien dan keluarganya), pemasok (termasuk Pedagang Besar Farmasi, klinik, dokter, dan bidan yang diharapkan merujuk pasien), media massa, perusahaan asuransi kesehatan, bank, asosiasi profesi, asosiasi rumah sakit, institusi pendidikan, instansi pemerintahan, pemegang saham dan sebagainya. Adapun publik internal meliputi manajemen dan kelompok Sumber Daya Manusia di rumah sakit.
            Proses kerja PR atau Humas menurut Ruslan (2006) adalah: “Seni dan ilmu pengetahuan sosial untuk menganalisis kecenderungan, memprediksi konsekuensi-konsekuensinya, menasehati para pemimpin organisasi, dan melakukan program yang terencana mengenai kegiatan-kegiatan yang melayani, baik kepentingan organisasi maupun publik atau umum.”
            Berdasarkan uraian diatas bisa di simpulkan bahwa dalam praktiknya PR itu adalah suatu keinginan untuk menanamkan pengertian, good will, kepercayaan, penghargaan dari publik kepada suatu organisasi atau rumah sakit. Sekecil apapun penilaian dari publik dapat mempengaruhi eksistensi suatu suatu rumah sakit karena secara langsung dan tidak langsung kegiatan suatu rumah sakit akan selalu berhubungan dengan publik. Baik publik eksternal maupun publik internal
Tujuan dan  Fungsi Public Relations
            Public relations atau Humas secara umum bertujuan menciptakan dan memelihara saling pengertian, dalam sebuah organisasi. Oxley dalam Iriantara[12] mempertegas pernyataan ini dengan mengatakan bahwa tujuan Humas sesungguhnya tidak bisa lepas dari tujuan organisasi, mengingat Humas adalah fungsi manajemen satu organisasi dan Humas pun bekerja di dalam organisasi itu. Dan ditegaskan bahwa prinsipnya Tujuan Humas jelas dan mutlak memberi sumbangan pada objektif organisasi secara keseluruhan.
            Tujuan Humas itu dirinci Oxley menjadi enam belas tujuan sebagai berikut; menciptakan good will karyawan atau anggota organisasi, mencegah dan memberi solusi masalah perburuhan, mengayomi good will komunitas tempat organisasi menjadi bagian didalamnya,good will para stake holder dan konstituen, mengatasi kesalahpahaman dan prasangka, mencegah serangan, menjaga good will para pemasok, mempertahankan good will pemerintah, good will bagian lain dari industri, good will para dealer dan menarik dealer lain, kemampuan untuk mendapatkan personel terbaik, pendidikan publik untuk menggunakan produk atau jasa, pendidikan publik untuk satu titik pandang, good will para pelanggan atau para pendukung,investigasi sikap pelbagai kelompok terhadap perusahaan, merumuskan dan membuat pedoman kebijakan, menaungi viabilitas masyarakat tempat organisasi berfungsi
            Menurut Kasali[13], Humas adalah fungsi strategi dalam manajemen yang melakukan komunikasi guna melahirkan pemahaman dan penerimaan publik Sedangkan Cutlip et.al dalam Morissan[14]merumuskan fungsi Humas sebagai berikut:
a.  Menjunjung aktifitas utama manajemen dalam mencapai tujuan bersama (fungsi melekat pada manajemen lembaga atau organisasi).
b.  Membina hubungan yang harmonis antara badan/organisasi dengan publiknya sebagai khalayak sasaran.
c. Mengidentifikasikan yang menyangkut opini, persepsi dan tanggapan masyarakat terhadap badan/organisasi yang diwakilinya atau sebaliknya.
d.   Melayani keinginan publiknya dan memberikan sumbangan saran kepada pimpinan manajemen demi untuk tujuan dan manfaat bersama.
e.   Menciptakan komunikasi dua arah timbal balik, dan mengatur arus informasi, publikasi serta pesan dari badan/organisasi ke publiknya atau terjadi sebaliknya demi tercapainya citra positif bagi kedua belah pihak.
            Fungsi utama Public relations atau humas, menurut Djanaid dikutip Kusumastuti[15] adalah fungsi konstruktif dan fungsi korektif. Dalam fungsi konstruktif, humas berperan sebagai mempersiapkan mental publik untuk menerima kebijakan organisasi/lembaga, humas menyiapkan mental organisasi/lembaga untuk memahami kepentingan publik.
         Fungsi konstruktif ini mendorong humas membuat aktivitas atau kegiatan-kegiatan yang terencana, berkesinambungan yang cenderung bersifat proaktif. Fungsi korektif dilakukan apabila sebuah lembaga/organisasi terjadi masalah-masalah (krisis) dengan publik, maka humas berperan dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Kedudukan Public Relations dalam organisasi rumah sakit
            Cutlip, Center, dan Broom dalam Morissan (2008)  mengungkapkan ruang lingkup kerja humas mencakup tujuh bidang pekerjaan: publicity, advertising, press agency, public affairs, issues management, lobbying dan investor relation. Atau bisa di terjemahkan menjadi publisitas, iklan, penghubung dengan media, urusan publik, manajemen isu, lobi dan hubungan investor. Pada prakteknya lingkup kerja humas ini bisa dipadatkan menjadi enam bidang pekerjaan saja dengan cara menjadikan iklan sebagai bagian dari pemasaran dan menggabungkan press agencykedalam publisitas karena pada dasarnya press agency merupakan bagian dari publisitas sementara iklan menjadi salah satu kegiatan pemasaran. Dengan demikian ruang lingkup pekerjaan humas dapat dibagi menjadi enam bidang pekerjaan yaitu:
a.       Publisitas
Publisitas adalah upaya orang atau organisasi agar kegiatannya diberitakan media massa. Publisitas lebih menekankan pada proses komunikasi satu arah sedangkan humas adalah komunikasi dua arah. Publisitas merupakan salah satu alat dalam kegiatan humas, namun humas tidak akan dapat berbuat banyak tanpa publisitas.
b.      Pemasaran
Humas pada organisasi bertujuan mencari keuntungan seperti perusahaan haruslah dapat bekerja secara efektif dan menjadi bagian dari tujuan perusahaan untuk memenangkan persaingan. Kondisi kompetitif yang terdapat pada perusahaan menjadi tuntutan manajemen terhadap peran humas menjadi sangat besar.
c.       Public Affairs
Humas memiliki peranan khusus dalam publik yang membangun dan mempertahankan hubungan dengan pemerintah dan komunitas lokal agar dapat mempengaruhi kebijakan publik. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat dua pihak yang menjadi fokus perhatian public affairs yaitu pemerintah dan masyarakat. Organisasi atau perusahaan harus menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah karena pemerintah mengeluarkan peraturan yang harus dipatuhi oleh perusahaan.
d.      Manajemen Isu
Manajemen isu (issue management) merupakan upaya organisasi atau perusahaan untuk melihat kecenderuangan isu atau opini publik yang muncul di tengah masyarakat dalam upaya organisasi memberikan tanggapan atau respon yang sebaik-baiknya.
e.       Lobi
Bagian khusus dari PR yang berfungsi untuk menjalin dan memelihara hubungan dengan pemerintah dan non pemerintah terutama dengan tujuan mempengaruhi penyusunan undang-undang dan regulasi.
f.       Hubungan Investor
Tugas humas dalam menjalin hubungan investor adalah meningkatkan nilai saham perusahaan dan mengurangi biaya modal dengan cara meningkatkan kepercayaan pemegang saham dan membuat saham menjadi menarik bagi para investor individu dan investor institusi serta para analis keuangan. 

Krisis dalam organisasi rumah sakit
Setiap organisasi atau perusahaan pasti memiliki peluang untuk mengalami krisis. Krisis dapat didefinisikan sebagai sebuah kejadian luar biasa atau rangkaian peristiwa yang mempengaruhi integritas produk, reputasi stabilitas keuangan organisasi, atau kondisi kesehatan dari pekerja, komunitas, atau publik secara luas[16] . Sementara itu Fearn dan Banks  dalam Nova[17]mendefiniskan krisis sebagai “ a mayor occurrence with a potentially negative outcome affecting an organization, company or industry, as well as its public, products, services or good name”. Secara umum krisis public relationsdapat diartikan sebagai suatu kondisi dimana peristiwa, rumor, atau informasi akan memberi pengaruh buruk terhadap reputasi, citra, dan kredibilitas organisasi atau perusahaan.
Krisis bisa terjadi kapan saja dan menyerang siapa saja, krisis umumnya terjadi secara tiba-tiba dan tidak terduga. Sebuah penelitian tentang manajemen krisis menemukan bahwa hanya 14% dari krisis yang dapat diduga. Sedangkan 86% sisanya krisis yang terjadi secara tiba-tiba[18].
Tahapan krisis atau lazim disebut sebagai anatomi krisis memiliki tahapan yang berbeda diantara para ahli. Menurut Fink[19], krisis tersusun atas empat fase yaitu; tahap prodomal, tahap akut, tahap kronik, dan tahap resolusi.
Tahap prodomal adalah suatu fase dimana gejala atau tanda-tanda krisis mulai muncul. Jika gejala ini dapat dikenali dan diatasi, maka akan terjadi aborsi krisis. Pada tahap ini perusahaan harus melaksanakan strategi berikut; melakukan pemantauan terhadap lingkungan untuk mengetahui kecenderungan yang berkembang dan memiliki peluang mempengaruhi organisasi, mengumpulkan data masalah yang potensial menimbulkan kesulitan bagi organisasi, dan mengembangkan strategi komunikasi dan berkonsentrasi mencegah munculnya krisis. Jika perusahaan cepat bergerak mengatasi krisis ini, maka besar kemungkinan tidak terjadi krisis.
Tahap kedua adalah krisis akut, dimana kerusakan benar-benar telah terjadi. Jika perusahaan tidak dapat mengatasi, maka kerusakan akan terus berlanjut dan muncul korban-korban. Pada kondisi ini, perusahaan harus mengakui telah terjadi krisis serta tidak dapat menghindar.
Tahap ketiga adalah tahapan kronis, fase ini adalah fase transisi atau ‘clean up stage’. Organisasi berusaha untuk menangani dan menyelesaikan tuntutan  dari berbagai pihak dengan memberikan kompensasi, ganti rugi atau penyelesaian masalah secara hukum. Fase ini dapat berlangsung sangat lama, lebih lama dari tahap krisis sebenarnya.
Tahap keempat adalah fase resolusi, dimana sudah ada tanda-tanda penyelesaian akhir yang menandakan krisis  sudah mulai reda. Perusahaan harus tetap berhati-hati karena ada kemungkinan krisis muncul kembali. Perusahaan harus memberikan perhatian ekstra kepada khalayak (public), terus melaksanakan pemantauan serta melaksanakan evaluasi rencana penanganan krisis.

Gambar 2.3 Tahapan Krisis Public Relations  menurut Fink (1986)

DAFTAR PUSTAKA
Agustine. 2000. Harvard Business Review on Crisis Management, Harvard Business School Press, USA
Christine Daymon, I. Holloway. 2002. Qualitative Research Methods in Public relations and Marketing Communication. Cahya Wiratama (penterjemah). 2008. Metode-Metode Riset Kualitatif dalam Public Relations dan Marketing Communications, PT. Bentang Pustaka, Jogjakarta.
Elton,L. 2007. Pengaruh Pemberitaan Surat Kabar Terhadap Persepsi Masyarakat Pengguna Jasa Transportasi Udara di Surabaya (Kasus Studi Kecelakaan Pesawat Adam Air), Jurnal llmiah Scriptura, Volume 1(2): p. 98-110.
Fearn dan K. Banks. 1996. Crisis Communication: A Case book Approach, Lawrence Erlbarum, Mahwah NJ.
Fink, S. 1986. Crisis Management: Planning for the Inevitable, Amacom, New York
Griffin, R.W. 2002. Management 7th, published by Houghton Mifflin Company. Gina Gania; editor. W.C. Kristiaji. 2009. Manajemen. Edisi 7 , Erlangga, Jakarta
Hammersley, M. 1998. Reading ethnographic research. 2nd ed., Longman,London UK:
Handoko, T.H., 1998. Manajemen  edisi Kedua, BPFE Yogyakarta, Jogjakarta.
Iriantara, Y. 2007. Community Relations: Konsep dan Aplikasi, Simbiosa Rekatama Media,Bandung
Jacobalis, S. 2002. Public Relations Rumah Sakit, Seminar PERSI.
Kasali, R. 2003. Manajemen Publik Relations., Pusat Studi Pengembangan Kawasan, Jakarta.
Kotler, P. 1997. Marketing Management, ninth edition, published by Prentice Hall.Inc. Hendra Teguh, Ronny Antonius Rusli (penterjemah). 2007. Manajemen Pemasaran., Prenhallindo, Jakarta
Kusumastuti, F.2004. Dasar-dasar hubungan Masyarakat, Edisi 2, Ghalia Indonesia,Jakarta.
Lincoln, Y.S. danE.G. Guba.1985. Naturalistic Inquiry,: Sage, Beverly Hills CA.
Lupiyoadi, R. dan A. Hamdani. 2009. Manajamemen Pemasaran Jasa, Edisi 2, Salemba Empat, Jakarta.
 Maxwell, J.A. 1996. Qualitative Research Design: An Interactive Approach,: Sage, Thousand Oaks CA.
 Miles and Huberman.1994. Qualitative Data Analysis, 2nd ed,Sage Publication, London.
 Morissan.2008. Manajemen Public Relation: Strategi Menjadi Humas Profesional., Prenada Media Group, Jakarta.
 Mulyadi dan J. Setyawan. 2001. Sistem Perencanaan dan Pengendalian Manajemen:  Sistem Pelipatganda Kinerja Perusahaan,Edisi 2, Salemba Empat,  Jakarta.
 Muray, A. 2001. Teach Yourself: Public relations, Hodder and Stoughton Educational, Great Britain.
 Nova, F. 2009. Crisis Public Relations: Bagaimana Public Relations Menangani Krisis Perusahan,  Grasindo,Jakarta
 Pearce, J.A. and R.B. Robinson. 2007. Strategic Management, Implemnetation and Control 10th edition, The Mc Graw Hill Companies, Inc. Yanivi Bachtiar dan Chistine (penterjemah). 2008. Manajemen Strategis: Formulasi, Implementasi dan Pengendalian. Edisi 10, Salemba Empat, Jakarta.
 Rachmat, J. 1985. Metode Penelitian Komunikasi., Remaja Rosda Karya, Bandung.
 Rivers, W., J.W. Jensen, dan T. Peterson, Media Massa dan Masyarakat Modern. 2004, Jakarta: Prenada Media.
 Robbins, S.P. 2002. Essensials of Organizational Behaviour, 5thed, Prentice Hall.Inc. Halida, Dewi Sartika (penterjemah) Prinsip-Prinsip perilaku Organisasi, Edisi 5, Erlangga. Jakarta.
 Rosyati dan L.L.A. Hidayati, 2004. Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan Balanced Scorecard: Studi Kasus Pada Perusahaan Daerah Air Minum Kota Magelang. Jurnal Analisis Bisnis dan Ekonomi,. Vol.2(No.1),halaman 84-103.
 Ruslan, R. 1999., Praktek dan Solusi Public Relations; dalam Situasi Krisis dan Pemulihan Citra,  Ghalia Indonesia, Jakarta.
 Ruslan, R. 2005. Kampanye Public Relations., Jakarta: Rajawali Pers.
 Ruslan, R. 2006. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Rajawali Grafindo Persada Jakarta.
 Ruslan, R. 2008. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi., Rajawali Pers, Jakarta:
 Sanzo, M.J,A.B. del Rio, V. Iglesias, R. Vazquez. 2003. Attitude and satisfaction in a traditional food product. British Food Journal,. vol 105 (10/11),page 771-788.
 Seitel, F.1992. The Practice of Public Relations., Mac Millan Publishing Co., New York
 Soemirat, S. dan. E.Ardianto . 2007. Dasar-Dasar Public Relations., PT. Rosdakarya, Bandung.
 Tambunan, R.M. 2008. Pedoman Penyusunan Standard Operating Procedures., MAIESTAS Publishing,  Jakarta.
 Wahyudi, A.S. 1996. Manajemen Strategik :Pengantar Proses Berfikir Strategik,Binarupa Aksara, Jakarta.
 Wilcox, D.L., P.H. Ault, and W.K. Agee.  1992. Public Relations Strategies and tactics., Harper Collins Publisher Inc,  New York.



[1] www.wikipedia.org/wiki/rumah_sakit, diakses tanggal 17 Juni 2015
[2]Wilcox, D.L., P.H. Ault, and W.K. Agee.  1992. Public Relations Strategies and tactics., Harper Collins Publisher Inc,  New York.
[3] Nova, F. 2009. Crisis Public Relations: Bagaimana Public Relations Menangani Krisis Perusahan,  Grasindo,Jakarta
[4] Sanzo, M.J, A.B. del Rio, V. Iglesias, R. Vazquez. 2003. Attitude and satisfaction in a traditional food product. British Food Journal,. vol 105(10/11), page 771-788
[5]Kotler, P. 1997. Marketing Management, ninth edition, published by Prentice Hall.Inc. Hendra Teguh, Ronny Antonius Rusli (penterjemah). 2007. Manajemen Pemasaran., Prenhallindo, Jakarta
[6] Pearce, J.A. and R.B. Robinson. 2007. Strategic Management, Implemnetation and Control 10th edition, The Mc Graw Hill Companies, Inc. Yanivi Bachtiar dan Chistine (penterjemah). 2008. Manajemen Strategis: Formulasi, Implementasi dan Pengendalian. Edisi 10, Salemba Empat, Jakarta.
 [7] Wahyudi, A.S. 1996. Manajemen Strategik :Pengantar Proses Berfikir Strategik, Binarupa Aksara, Jakarta.
[8]Soemirat, S. dan. E. Ardianto . 2007.Dasar-Dasar Public Relations., PT. Rosdakarya, Bandung.
[9] Ruslan, R. 2008. Metode Penelitian Public Relations dan Komunikasi., Rajawali Pers, Jakarta
[10]Ruslan, R. 2006. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi, Rajawali Grafindo Persada Jakarta.
[11] Jacobalis, S. 2002. Public Relations Rumah Sakit, Seminar PERSI.
 [12]Iriantara, Y. 2007. Community Relations: Konsep dan Aplikasi, Simbiosa Rekatama Media,Bandung
[13]Kasali, R. 2003.Manajemen Publik Relations., Pusat Studi Pengembangan Kawasan, Jakarta.
 [14]Morissan.2008. Manajemen Public Relation: Strategi Menjadi Humas Profesional., Prenada Media Group, Jakarta.
[15]  Kusumastuti, F.2004. Dasar-dasar hubungan Masyarakat, Edisi 2, Ghalia Indonesia, Jakarta.
 [16]Wilcox, D.L., P.H. Ault, and W.K. Agee.  1992. Public Relations Strategies and tactics., Harper Collins Publisher Inc,  New York.
[17]Nova, F. 2009. Crisis Public Relations: Bagaimana Public Relations Menangani Krisis Perusahan,  Grasindo,Jakarta
[18]Ruslan, R. 1999., Praktek dan Solusi Public Relations; dalam Situasi Krisis dan Pemulihan Citra,  Ghalia Indonesia, Jakarta.
[19] Fink, S. 1986. Crisis Management: Planning for the Inevitable, Amacom, New York
 [20]Agustine. 2000. Harvard Business Review on Crisis Management, Harvard Business School Press, USA
 [21]Muray, A. 2001. Teach Yourself: Public relations, Hodder and Stoughton Educational,Great Britain.
 [22] Syaikh Jabir al-Jaza’iri, Abu Bakar. 2008. Minhajul Muslim. Jakarta : Darul Haq
[23] Dr. H. Hendi Suhendi, M.Si. 2002. Fiqih Muamalah. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Ketika Kontroversi Memakan Korban



Judul buku: Bunga Rampai Kedokteran Islam 2: Kontroversi Imunisasi
Tebal buku: 278 halaman
Penerbit: Pustaka Al-Kaustar

Sebenarnya, diskusi alot antara para penggiat antivaksin dengan provaksin telah terjadi sejak lama, sejak belasan tahun yang lalu. Seperti halnya banyak teori baru yang menjerumuskan penemunya ke dalam kehinaan. Sebutlah Galileo yg mendukung teori bahwa bumi itu mengelilingi matahari, teori itu membuatnya dikucilkan dari gereja hingga ajalnya, namanya baru dibersihkan ratusan tahun kemudian oleh pihak Vatikan.
Begitupun penemuan vaksin, hingga kini masih menjadi kontrovesi. Kemudian muncullah media sosial yang menghapus batas geografis manusia. Lalu internet menjadi nara sumber paling dipercaya. Tak pelak, kontrovesi tentang imunisasi pun menjadi salah satu topik, yang demikian ramai dibicarakan, hingga masing-masing simpatisan pro dan anti-vaksin menimbulkan makin menimbulkan polarisasi.
Naasnya, tak semua kutub menggunakan dasar ilmiah yang sahih dalam argumennya. Bahkan tak jarang mengeluarkan prasangka. Akibatnya, para “floating mass” yang tak mengerti apa-apa kemudian menjadi korban.
Maka, pertanyaan-pertanyaan mereka sering mendapat jawaban seadanya.
“Kakaknya divaksin sering sakit, adiknya ga divaksin sehat. Jadi untuk apa?”
“Vaksin kan senjata bikinan Yahudi untuk melemahkan ummat Islam?”
“Untuk apa bayi divaksin? Bukankah ASI dan tahnik saja sudah cukup?”
“Apakah setelah divaksin bisa bebas dari penyakit?”

Buku ‘Bunga Rampai Kedokteran Islam 2: Kontroversi Imunisasi’ ini disusun di antara ramainya diskusi tersebut. Dr.Siti Aisyah Ismail bersama rekan-rekannya di Prokami: Profesi Kesehatan Muslim Indonesia, sengaja mengumpulkan tulisan dari 33 kontributor dengan berbagai latar belakang demi memberikan pandangan utuh kepada pembaca. Dirinya sendiripun tak pelak ikut menuangkan berbagai gejolak di pikirannya tentang kontroversi panjang ini.
Pandangan ilmiah dikumpulkan dari para dokter anak, pakar imunologi, hingga mereka yang bekerja di bidang farmasi. Pandangan agama dituliskan oleh ahli syariah, pun oleh dokter yang juga aktif mengkaji agama.
Di bab awal buku bahkan pandangan para ‘korban’ vaksin diberikan tempat untuk disimak kisah dan opininya. Para ‘korban’ ini layak diberi kesempatan untuk menyampaikan curahan hati. Dan ternyata, inilah kelebihan buku ini dari buku lain dengan topik yang sama. Para ‘korban’ vaksin ini membuat kontroversi imunisasi ini menjadi tema yang luar biasa pentingnya, sebab dari mereka pembaca bisa menyadari bahwa ini bukan hal yang sepele. Karena urusan imunisasi ayah dan anak bisa perang dingin. Karena urusan imunisasi, hak asasi anak bisa terabaikan. Karena kontroversi ini, gelar dokter bahkan doktoral sudah tak diperlukan karena telah lahir perguruan tinggi online baru yang bisa diakses dari manapun: UGM! Universitas Google Mandiri!
Buku setebal 289 halaman ini memang wajib dibaca siapa saja. Tak harus menjadi menjadi orang tua yang anaknya mau diimunisasi untuk membaca buku ini. Kedua kutub: pro dan antivaks, juga mereka yang masih menjadi ‘floating mass’ perlu membaca buku ini.
Baru setelah membacanya, Anda boleh bersikap.
Penulis: dr. Sari Kusumawati, Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Sumber : http://suarajakarta.co/lifestyle/kesehatan/ketika-kontroversi-memakan-korban/

Seminar dan Pelatihan Hospital Mesra Ibadah: Pelaksanaan dan Tantangannya

Seminar dan Pelatihan
Hospital Mesra Ibadah: Pelaksanaan dan Tantangannya
Dewan Masjid Wilayah Persekutuan
Kuala Lumpur, 7-9 November 2014
Seminar dan pelatihan Hospital Mesra Ibadah di Kuala Lumpur, dilaksanakan atas kerjasama Konsortium Hospital Islam Malaysia (KHIM) dengan Kementerian Kesihatan Malaysia (KKM) dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Prokami mengirim dua orang perwakilan yaitu Dr Burhanuddin Hamid Darmadji dan Dr Siti Aisyah Ismail untuk mengikuti seminar tersebut.

Konsep Hospital Mesra Ibadah (HMI) telah dipelopori oleh KHIM sejak tahun 1996 di Hospital Al-Islam Kampung Baru, di Kuala Lumpur. Alhamdulillah melalui advokasi dan networking yang baik, KKM juga telah mengadopsi konsep tersebut di beberapa RS pemerintah sejak 2010. Pada bulan Oktober 2014, KKM secara resmi mengadakan launching konsep Hospital Mesra Ibadah di Hospital Sungai Buloh oleh Dirjen Kesehatan Dato Dr Noor Hisham Abdullah, untuk dilaksanakan di semua RS pemerintah. KKM bekerjasama dengan JAKIM telah memproduksi beberapa produk untuk menunjang pelaksanaan konsep ini seperti: poster dan buku panduan wudhu dan tayammum, poster dan buku panduan solat untuk pasien, video panduan wudhu, tayammum dan solat untuk pasien, sarana dan fasilitas ibadah, azan dan peringatan waktu solat, arah kiblat di semua ruangan RS, penempatan pegawai agama yang bertugas di RS, orientasi dan pelatihan perawat dan tenaga medis lain untuk membantu pasien beribadah dan lain-lain.
Menyadari bahwa hanya sebagian kecil pasien yang dirawat di RS melaksanakan solat, KHIM menyerukan kepada semua pihak untuk ikut andil dalam meluruskan persepsi masyarakat tentang kewajiban untuk tetap sholat ketika sakit, memfasilitasi pelaksanaan sholat di RS, konsep bekerja merupakan ibadah, dan mewujudkan nuansa mendekatkan diri kepada Allah bagi semua pasien dan tenaga kesehatan.
Beberapa konsep lain yang dipaparkan adalah:
11. Islamic chaplaincy
Menyediakan pelayanan suportif keagamaan bagi pasien dalam menjalani tempoh rawat di RS. Pelayanan diberikan oleh seorang petugas agama yang bekerja di RS, yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien, yang mencakup:
  •  Support ibadah, membimbing dan memfasilitasi pelaksanaannya
  • Respon di saat kritis, konseling anggota keluarga pasien
  • Membimbing pasien di saat menghadapi kematian
  • Membimbing pasien dan keluarga pasien di saat-saat sulit selama dirawat di RS
  • Dan lain-lain

Seorang muslim chaplainharus memiliki ketrampilan komunikasi inter-personal, konseling dan berpengetahuan Islam yang cukup baik. Dia juga harus mencoba mempraktikkan nilai-nilai Islam dalam pelayanannya seperti empati, bersandar kepada Allah, tidak menghakimi, memberi kenyamanan, dan lain-lain.
22. Spiritual assessment in patient
Penanganan pasien harus dilakukan secara holistik yang mencakup aspek fisik, mental, psikologis dan spiritual. Ketika pasien dirawat di RS, kondisi spiritual pasien juga perlu dinilai untuk mengetahui kebutuhan spiritual mereka. 3 kategori yang perlu dinilai adalah:
  • Faktor eksternal (keluarga, finansial, kondisi sebelum sakit, dll)
  • Faktor internal (emosi pasien, nilai-nilai hidup pasien, dll)
  • Bagaimana kondisi sakit mempengaruhi hubungan pasien dengan Allah

Profil kondisi spiritual ini akan membantu muslim chaplain untuk memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan individu pasien. Penanganan aspek spiritual pasien diharapkan dapat mempercepat proses penyembuhan dan meringankan derita yang dialami.
33. Memahami emosi pasien dengan penyakit terminal
Pasien berhak untuk diberitahukan tentang prognosis penyakit mereka, agar mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan persiapan menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi. Beberapa faktor mempengaruhi bagaimana reaksi pasien dalam menerima kondisi mereka. Sebagai petugas kesehatan, kita harus membangun komunikasi yang terbuka dengan pasien dan memahami siklus emosi yang mereka alami:
                     i.         Denial, tidak terlalu banyak memberikan informasi, tapi lebih banyak mendengarkan
                    ii.         Anger, jangan merasa diserang secara pribadi, ini reaksi normal
                  iii.         Bargaining, mengarahkan dan membimbing pasien untuk mendekatkan diri dengan Allah
                   iv.         Depression, memberi suport psikologis
                     v.         Acceptance, memfasilitasi kebutuhan mereka
44. Rukhshahdan Dharurah
Islam adalah agama yang mudah. Kondisi sakit diakui di dalam Islam sebagai suatu kondisi yang sulit. Pasien diperbolehkan untuk mengambil rukhshah (keringanan) dari ‘azhimah apabila timbul suatu dharurah. Beberapa kondisi rukhshah yang bisa diaplikasikan:
·      Berwudhu dalam kondisi khusus
·      Tayammum
·      Sholat dalam kondisi duduk, berbaring dan isyarat mata
·      Sholat jama’
·      dll
55. Maqashid Syari’ah dan Qawa’id Fiqhiyah in medicine
Dalam memutuskan sesuatu di bidang kedokteran, ada panduan khusus yang dapat digunakan di dalam Islam, yaitu:
                        I.         Maqashid syari’ah:
a.     Memelihara agama
b.     Memelihara jiwa
c.      Memelihara keturunan
d.     Memelihara akal
e.     Memelihara harta
                      II.         Qawa’id fiqhiyah
a.     Prinsip niat
b.     Prinsip kepastian
c.      Prinsip mudarat
d.     Prinsip kesulitan
e.     Prinsip kebiasaan
66. Profesional Muslim as da’i
Da’wah adalah menyampaikan Islam kepada muslim dan non-muslim, yang menghasilkan perubahan tingkah laku. Da’wah akan membantu pelakunya memperbaiki diri sendiri karena mempunyai standar tertentu yang harus dipenuhi. Beberapa konsep yang perlu diperhatikan adalah; proaktif, tadarruj, mudah diterima, menunjukkan contoh yang baik dan lain-lain. Di dalam setting kedokteran, kondisi pasien yang rentan membuka kesempatan yang besar untuk da’wah bagi mereka dan keluarganya. Petugas kesehatan harus menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan pasien, menunjukkan contoh akhlak dan profesionalisme yang tinggi, serta menghormati hak dan privasi pasien.
77. Bimbingan Husnul Khatimah
Di dalam Islam, hidup merupakan sebuah perjalanan menuju akhirat. Dan kematian adalah permulaan kehidupan yang kekal abadi. Manusia harus bisa mengambil makna tersirat dari penyakit, kecacatan dan kematian, bahwa semua itu sudah ditakdirkan. Bimbingan ini bertujuan agar pasien lebih tenang dan dapat menuju husnul khatimah, juga membantu keluarga untuk dapat memberikan penghormatan terakhir dengan baik.
Sesi sharing dari beberapa RS pemerintah tentang pelaksanaan konsep HMI dan tantangannya, memberikan banyak masukan. Rumah Sakit yang menampilkan pengalaman mereka antara lain :
1.     Pusat Perubatan Universiti Malaya, Petaling Jaya
2.     Hospital Tengku Ampuan Afzan, Kuantan
3.     Hospital Sultanah Aminah, Johor Bahru
4.     Hospital Sultan Ismail, Johor Bahru
5.     Hospital Sultan Abdul Halim, Sungai Petani
6.     Hospital Teluk Intan
7.     RS Al Islam Bandung, Indonesia
Di hari terakhir, sebuah demonstrasi dan praktik diadakan tentang aplikasi manajemen ibadah pasien seperti wudhu dalam kondisi khusus, tayammum dan sholat dalam kondisi khusus.
Seminar dan pelatihan ini telah banyak membuka mata tentang aspek spiritual pasien yang sering terlupakan. Semoga Prokami dapat menjadi penggerak dan lebih bisa memasyarakatkan konsep dan aplikasi Ibadah Friendly Hospitaldi Indonesia.
Bersama delegasi dari RS Al-Islam Bandung dan RS Al-Irsyad Surabaya
Dr Burhan, Prof Dr Omar Hasan Kasule (Riyadh), Dr Ishak (KHIM) dan Dr Siti Aisyah

Dr Burhan, Dr Suhaimi (Hosp Al-Islam Kg Baru), Mr Kamal Abu Shamsieh (USA)

Foto bersama peserta seminar

Hospital Management Training Hospital Pakar An-Nur

Hospital Management Training
Hospital Pakar An-Nur
Bangi, Selangor, Malaysia
10 November 2014
Prokami melalui PT Persada Imani Husada unit Hospital Management and Consulting, telah mengadakan pelatihan untuk klien pertamanya dari luar Indonesia.  Pelatihan dihadiri oleh direksi dan top management Hospital Pakar An-Nur. Trainer dari Prokami terdiri dari Dr Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS dan Dr Roswin Rosnim Djafar serta Dr Siti Aisyah Ismail sebagai sekretaris.
Beberapa topik yang dibahas adalah:
11.  Ibadah Friendly Hospital
22. Syari’ah Compliant Accreditation
33. Implementation of Tarbiyah Islamiyah in Hospital
44. Performance-based Remuneration
55. Corporate and Hospital Structure

66. Various Model and Development of Hospital Structure

Hospital Management Training di Hospital Pakar An-Nur Bangi
Di kesempatan yang sama, Prokami telah mengadakan networking dan hospital visit ke Hospital Al-Islam, Kampung Baru, Kuala Lumpur. Tim Prokami disambut oleh Dr Ishak Mas’ud, direktur Hospital Al-Islam dan ketua Konsortium Hospital Islam Malaysia (KHIM). Hospital Al-Islam menyatakan kesediaan untuk dilakukan benchmarking untuk pelaksanaan konsep Hospital Mesra Ibadah. Beberapa langkah-langkah strategis telah dibicarakan bagi manfaat bersama.
Silaturahim ke Hospital Al-Islam Kampung Baru



Panduan Syariah Dalam Berobat

Disampaikan dalam Simposium dan Munas II Perhimpunan Tenaga Profesi Kesehatan Muslim Indonesia-Islamic Medical Association and Network of Indonesia (Prokami-IMANI).

Legalitas Berobat

Allah swt berfirman terkait dengan madu, “Dikeluarkan dari perutnya minuman yang beragam warna nya, di dalam nya ada obat bagi manusia”. (QS. An-Nahl ayat 69).
Imam Qurtubi menjelaskan tentang makna ayat tersebut, “Dalam firman Allah swt (Di dalamnya ada obat) merupakan dalil dan petunjuk boleh dan disyariatkannya berobat dengan meminum obat atau lainnya. (Tafsir al-Qurtubi, volume 1 hlm 138)
Dalam banyak riwayat juga dijelaskan bahwa nabi Muhammad saw membolehkan bahwa memerintahkan kepada para sahabat untuk berobat.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Jabir bin Abdillah ra, beliau menceritakan bahwa nabi saw bersabda, “Setiap penyakit itu ada obatnya. Apabila tepat obat untuk penyakit tersebut, akan sembuh dengan ijin Allah ‘azza wa jalla”. (Syarah Shahih Muslim, volume 14 hlm 191)
Seorang sahabat, Usamah bin Syariik ra pernah meriwayatkan bahwa suatu kesempatan datang kepada nabi saw beberapa orang Arab Badui. Mereka bertanya kepada nabi saw, “Apakah kami perlu berobat?”. Nabi saw menjawab, “Berobatlah kalian, karena Allah swt tidak meletakan penyakit melainkan menyediakan obatnya kecuali satu penyakit, yaitu penyakit kematian”. (HR. Abu Daud, lihat ‘Aun al-Ma’buud volume 10 hlm 334)
Berdasarkan hadits ini maka Imam Nawawi berpandangan bahwa berobat itu adalah sesuatu yang mustahabb atau disenangi, demikian juga pandangan ulama mazhab Syafi’I lainnya. (Lihat Syarah Shahih Muslim). Imam Abu Ishaq asy-Syaerozy, pengarang kitab al-Muhadzab berpandangan bahwa, “Jika seorang muslim sakit, maka ia wajib bersabar dan disukai jika berobat”. (al-Muhadzab volume 5 hlm 94)
Dengan demikian berobat walaupun pada hokum asalnya adalah dibolehkan namun bisa menjadi wajib dengan beberapa penjelasan :
  1. Apabila berobat atau tindakan medis itu adalah solusi dari sakit seseorang yang kuat dugaan akan membahayakan atau membinasakan jika tidak berobat atau tidak ada tindakan medis.
  2. Dalam muamalat dan masalah duniawi maka hukum itu berdasar dugaan kuat. Tidak mesti sesuatu yang pasti atau yakin.
  3. Pengobatan dengan obat tertentu yang telah berhasil menyembuhkan penyakit tertentu dalam banyak kasus, maka bisa dikatakan bahwa secara sunnah kauniyah bahwa obat tersebut adalah penawar untuk penyakit tadi. Sehingga berobat dengannya bisa menjadi wajib.

Penggunaan Zat Yang Haram Untuk Berobat

Dari pandangan-pandangan ulama terkait hukum penggunaan zat haram untuk berobat, maka pendapat yang sesuai adalah pendapat yang membolehkan dengan persyaratan. Pendapat ini disampaikan oleh fuqoha mazhab Hanafi (seperti Imam al-‘Ainiy dll) dan mazhab Zohiri (seperti Imam bnu Hazm dll). Syarat yang mereka sampaikan ialah :
  1. Tidak ada atau belum ada nya alternative obat dari zat yang halal
  2. Direkomendasikan oleh dokter yang dipercaya, kompeten yang menyatakan bahwa penggunaan obat tersebut mendesak dan belum ada obat lainnya.
Beberapa kasus yang terjadi di masa nabi saw terkait penggunaan zat haram untuk berobat atau tindakan medis :
  1. Diriwayatkan oleh Imam Nasai dalam kitab Sunan nya sebuah kejadian yang menimpa ‘Arfajah bin As’ad. Beliau terluka hidungnya di yawm al-kilab (mata air) pada masa jahiliyah. Ia mengganti batang hidungnya dengan perak. Maka nabi saw memerintahkan kepadanya untuk menggunakan emas. (Sunan Nasai, volume 8 hlm 142)
  2. Sahabat Anas bin Malik ra meriwayatkan  bahwa Rasulullah saw memberi keringanan (rukhsoh) kepada Abdurrahman bin Auf dan Zubair bin Awwam menggunakan baju dari sutera karena gatal-gatal yang mereka derita. (HR. Nasai dalam Sunan nya volume 8 hlm 178)
Dari dua kejadian ini menunjukan bahwa penggunaan emas dan sutera yang sebenarnya haram bagi laki-laki menjadi boleh untuk pengobatan dan alasan medis. Kebolehan ini bukan saja untuk ketiga sahabat, namun tentunya menjadi kaedah umum bagi setiap muslim yang dalam keadaan darurat direkomendasikan berobat dengan zat yang haram.
Bahkan dalam kitab al-Fatawa al-Hindiyah (Ensiklopedi Fatwa-fatwa di India) dinyatakan : “Dibolehkan untuk kegunaan pengobatan minum darah, air seni dan bangkai jika direkomedasikan oleh dokter muslim bahwa obatnya dalam hal-hal tersebut, tidak didapat obat dari jenis yang halal. Jika penggunaan hal yang haram itu dengan maksud mempercepat penyembuhan, maka ada dua pendapat di kalangan Mazhab Hanafi; ada yang membolehkan dan ada yang mengharamkan”. (al-Fatawa al-Hindiyah, volume 5 hlm 128)

Obat Campuran Halal dan Sesuatu Yang Haram

Beberapa obat modern ada yang tercampur dengan alcohol atau sesuatu najis atau hal lain yang diharamkan, baik berupa makanan atau minuman. Dalam masalah ini maka bagaimana hokum penggunaannya dalam keadaan darurat?

Saat tidak ada alternative lain

Jika tidak ada alternative selain obat yang tercampur tersebut, maka kondisi ini dibolehkan. Karena jika sesuatu yang haram saja dibolehkan untuk pengobatan, maka apalagi jika zat yang haram itu bercampur dengan sesuatu yang halal.

Apabila ada alternative

Saat ada alternative menggunakan obat yang tidak tercampur dengan sesuatu yang haram, namun sang penderita kesusahan memperolehnya karena langka obat atau mahal harganya, atau dalam kondisi butuh akan obat tersebut namun belum sampai ke taraf darurat maka kaedahnya adalah :
Apabila sesuatu yang haram tersebut telah tercampur dan hilang zat nya, tidak ada yang bekas, rasa atau bau nya, maka obat tersebut BOLEH digunakan.  Karena sebenarnya zat haram tersebut tidak lagi wujud. Berikut beberapa pandangan fuqoha(pakar fiqh) dari berbagai mazhab :
  1. Imam al-Kaasaniy saat menjeleaskan tentang najis yang mengalami istihalah. [استحالة] “istihalah” yaitu perubahan benda najis atau haram menjadi benda yang suci yang telah berubah sifat dan namanya. Contohnya adalah jika kulit bangkai yang najis dan haram disamak, maka bisa menjadi suci atau jika khamr menjadi cuka  -misalnya dengan penyulingan- maka menjadi suci. Beliau berkata, “Benda-benda najis ketika berubah dan berganti sifat (rasa, bekas, dan bau) dan kandungannya, maka benda tersebut telah keluar dari kenajisan nya. Najis itu adalah nama yang dikenakan hukum karena zat yang terkandung. Hukum najis akan terangkat dan berubah jika sifatnya juga berubah”. (al-Badai’ karya Imam al-Kaasaniy volume 1 h;, 85)
  2. Imam Ibnu Hazm berkata : “Apabila sebuah najis mengalami istihalah atau perubahan zat najis atau keharamannya, maka batal lah nama yang menajdikan status hukumnya dilarang. Berganti kepada nama dan status hukum yang halal dan suci. Benda tersebut tidak lagi najis atau haram. Akan tetapi sudah menjadi sesuatu yang baru.” (al-Muhalla karya Imam Ibnu Hazm, volume2 hlm 112)
  3. Imam Ibnu Taimiyah menjelaskan : “Khabaits yang diharamkan Allah swt seperti bangkai, darah, babi dan lainnya apabila terjatuh di air atau aliran dan mati. Bagian-bagian nya tercerai dan lebur dengan aliran air, maka tidak lagi wujud hal tersebut lagi. Baik wujud bangkai, darah atau babi. Begitu juga khamr apabila hilang zat nya dan bercampur, maka peminumnya tidak termasuk peminum khamr. (Fatawa Ibnu Taimiyah volume 1 hlm20)
  4. Imam Nawawi menjelaskan dalam kitab al-Majmu’ tentang masakan yang tercampur dengan daging manusia dan lebur dengan masakan tersebut, “Tidak haram masakan tersebut, karena benda tersebut (daging tadi) sudah tercampur, lebur. Serupa dengan air kencing dan lainnya yang tercampu ke dalam air lebih dari 2 qullah, maka dibolehkan untuk digunakan sepanjang tidak berubah. Karena kencing yang sudah tercampur dan tidak Nampak lagi sama dengan tiada”. (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab karya Imam Nawawi, volume 9 hlm 62)
  5. Imam Ibnul Qayyim menyatakan : “Allah Ta’ala mengeluarkan benda yang suci dari benda yang najis dan mengeluarkan benda yang najis dari benda yang suci. Patokan bukan pada benda asalnya, tetapi pada sifatnya yang terkandung pada benda tersebut [saat itu]. Dan tidak boleh menetapkan hukum najis jika telah hilang sifat dan berganti namanya.” [I’lamul muwaqqin ‘an rabbil ‘alamin karya Imam Ibnul Qayyim, volume 1 hlm 298)
Dari berbagai penjelasan para ulama dia atas maka benda najis atau khabaits dan seluruh yang diharamkan apabila bercampur dengan obat-obat yang halal zatnya, atau dididihkan atau diproses sehingga menguap atau hilang dan tidak ada lagi sifat benda tersebut berupa bekas, rasa dan bau, maka obat tersebut dikategorikan obat yang mubah dan dibolehkan untuk digunakan.
Apabila tidak hancur atau zat yang haram tersebut masih ada sifatnya baik karena porsi nya yang lebih banyak atau begitu keras dan kuat kandungannya, maka ini masuk dalam penjelasan sebelumnya yaitu tentang hukum menggunakan zat yang haram : maka itu dibolehkan dengan syarat bahwa obat tersebut mendesak (darurat) penggunaannya, tidak ada alternative obat yang mubah dan direkomendasikan oleh dokter yang terpercaya.

Sekilas Tentang Hukum Imunisasi

Setelah kita mengetahui panduan syariat akan berobat, maka tentu akan memberikan pencerahan dalam melihat status hukum imunisasi.
Imunisasi sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), diartikan sebagai “pengebalan” (terhadap penyakit). Kalau dalam istilah kesehatan, imunisasi diartikanpemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun).
Adapun Vaksin adalah bibit penyakit (misal cacar) yang sudah dilemahkan, digunakan untuk vaksinasi. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak.
Imunisasi memiliki beberapa jenis, di antaranya Imunisasi BCG, Imunisasi DPT, Imunisasi DT, Imunisasi TT, imunisasi Campak, Imunisasi MMR, Imunisasi Hib, Imunisasi Varicella, Imunisasi HBV, Imunisasi Pneumokokus Konjugata. Perinciannya bisa dilihat dalam buku-buku kedokteran, intinya jenis imunisasi sesuai dengan penyakit yang perlu dihindari.
Vaksin secara umum cukup aman. Keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin timbul. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit masa kanak-kanak yang serius, yang sekarang ini sudah jarang ditemukan.
Jadi, imunisasi merupakan penemuan kedokteran yang sangat bagus dan manfaatnya besar sekali dalam membentengi diri dari berbagai penyakit kronis, padahal biayanya relatif murah.
Selain dari sisi manfaat baik medis maupun financial, maka pada dasarnya Islam meminta kepada umatnya untuk melakukan penjagaan diri dari penyakit sebelum terjadi. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda : “ Barangsiapa yang memakan tujuh butir kurma ajwah, maka dia akan terhindar sehari itu dari racun dan sihir” (HR. Bukhari : 5768, Muslim : 4702).
Hadits ini menunjukkan secara jelas tentang disyari’atkannya mengambil sebab untuk membentengi diri dari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga kalau dikhawatirkan terjadi wabah yang menimpa maka hukumnya boleh sebagaimana halnya boleh berobat tatkala terkena penyakit
Almarhum Syekh bin Baaz pernah ditanya akan tentang tindakan pemberian obat sebelum terjadi sakit (untuk pencegahan), maka beliau menjawab :
La ba’sa (tidak mengapa) berobat dengan cara seperti itu jika dikhawatirkan tertimpa penyakit karena adanya wabah atau sebab-sebab lainnya. Dan tidak masalah menggunakan obat untuk menolak atau menghindari wabah yang dikhawatirkan. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih (yang artinya),“Barangsiapa makan tujuh butir kurma Madinah pada pagi hari, ia tidak akan terkena pengaruh buruk sihir atau racun”
Ini termasuk tindakan menghindari penyakit sebelum terjadi. Demikian juga jika dikhawatirkan timbulnya suatu penyakit dan dilakukan immunisasi untuk melawan penyakit yang muncul di suatu tempat atau di mana saja, maka hal itu tidak masalah, karena hal itu termasuk tindakan pencegahan. Sebagaimana penyakit yang datang diobati, demikian juga penyakit yang dikhawatirkan kemunculannya.
Demikian semoga bermanfaat dalam diskusi ini.
Wallahu A’lam
Rujukan :
  1. Tafsir al-Qurtubi
  2. Shahih Bukhari syarah Imam al-‘Ainiy
  3. Shahih Muslim syarah Imam Nawawi
  4. Sunan Abu Daud syarah Imam al-Mubarakfuury
  5. Sunan Nasai
  6. Al-Majmu syarah al-Muhadzab
  7. Fatawa Ibnu Taimiyah
  8. I’lamul Muwaqqi’in
  9. Al-Muhalla
  10. Al-Badai’
  11. Fatawa Hindiyah
  12. Al-Mufashol fi Ahkamil Mar’ah
  13. Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah

Hukum Memampangkan Gambar Orang Sakit Pada Forum Diskusi Dokter

Terkadang dokter perlu mendiskusikan suatu penyakit pasien pada forum antar dokter. Di mana pada forum tersebut gambar-gambar pasien (hasil foto) akan dipampang dan diperlihatkan kepada forum dokter. Hal ini untuk didiskusikan atau dipelajari bagi mereka yang sedang belajar Beberapa dari gambar tersebut memang terlihat aurat. Bagaimana hukum hal ini?
Berikut fatwanya:
السؤال : في بعض الحالات المرضية وخصوصا النادرة يريد بعض الأطباء تصوير المريض أو جسده أو أجزاء من جسده – كالصدر والظهر والرجلين – لينفع في تدريس هذا المرض للآخرين ، فهل قيام الطبيب بهذا التصوير وعرضه في مؤتمر من المؤتمرات فيه بأس ؟؟؟
Pada sebagian keadaan pasien khususnya (kasus) yang jarang/ sulit. Sebagian dokter mengambil gambar pasien, tubuhnya atau sebagian dari tubuhnya misalnya dada, punggung atau kaki untuk bahan pelajaran bagi yang lain. Apakah boleh, perbuatan dokter dengan mengambil gambar dan memperlihatkannya pada forum diskusi?
Jawaban:
الجواب : ( الحمد لله ، عرضنا هذا السؤال على فضيلة الشيخ محمد بن صالح العثيمين فأجاب حفظه الله
إذا كان بعلم المريض وفيها مصلحة للجمهور ما فيها بأس ، أما إذا كان بغير إذنه فلا يجوز
Pertanyaan ini kami ajukan kepada syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, beliau menjawab:
Jika pasien tahu dan ada kemashalahatannya maka tidak mengapa. Adapun jika tanpa seizin pasien maka tidak boleh.
(Fatawa Asy-syar’iyyah fii masa’ilit thibbiyah, hal 224)
Maka hendaknya meminta izin kepada pasien jika gambarnya akan dipakai untuk diskusi. Atau agar tidak repot, hendaknya ini dijadikan protap tetap dari rumah sakit. Bahwa dokter dan tim medis berhak memampangkan gambar pasien untuk tujuan diskusi membahas penyakit dan tujuan pembelajaran (tidak boleh tujuan yang lain). Ini berlaku untuk setiap pasien yang berobat ke rumah sakit Jika pasien setuju dengan protap ini, maka ini adalah persyaratan yang harus dipatuhi bersama.
sebagaimana hadits
المسلمون على شروطهم
“Seorang muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati (HR. Muslim)
Demikian semoga bemanfaat.
@Radiopoetro, FK UGM

Hukum Vaksinasi Menurut Beberapa Ulama Madinah

Tanya jawab dengan syaikh sholeh as-Suhaimy Jum’at pekan lalu setelah dars ba’da subuh di masjid nabawi
pertanyaan: Sebagian dokter di negri kami merasa mengetahui pengobatan nabi (thibbun nabawi). Mereka berkata bahwasannya vaksinasi haram karena kejelekannya lebih banyak dari manfaatnya dan dikarenakan vaksin produksi orang kafir. apakah pernyataan mereka benar ?
jawab (ringkasannya) : perkataan tersebut tidak benar. Dan pernyataan mereka mencerminkan sikap kekanak-kanakan terhadap ilmu kedokteran. Program vaksinasi telah terbukti keberhasilannya dengan karunia Alloh. Kita tidak mempermasalahkan apakah vaksin tersebut buatan muslim atau kafir. Yang kita permasalahkan adalah jika obat (vaksin) tersebut adalah sesuatu yang harom, atau bercambur dengan dzat yang haram, atau pada obat tersebut ada keyakinan tertentu. Adapun jika vaksin diproduksi oleh dokter kafir -yang mana kebanyakan dokter sekarang adalah dari kalangan mereka- dan telah dibuktikan manfaatnya secara ilmiyah, maka sepantasnya bagi seorang muslim menerimanya dan tidak menolaknya selama tidak bertentangan dengan syariat.
(kemudian syaikh bercerita bahwasannya vaksinasi sudah dikenal Arab sejak zaman dahulu. Beliau juga bercerita tentang keberhasilan vaksin cacar)
Maka sikap keras dan kaku dalam permasalah ini adalah menyelisihi syariat kita. Karena hukum asal berobat adalah halal kecuali jika terbukti ada keharoman didalamnya.
selengkapnya bisa dengarkan suara beliau langsung
(Sumber: via fanpage status nasehat Facebook, kami dengar kembali dari sumber, penjelasan ini mulai pada menit ke 4: 48)
Begitu juga fatwa dari syaikh Abdul Muhsin Al-Badr (pengajar tetap di Masjid Madinah dan salah satu ulama paling senior)
ketika menjelaskan hadits
مَنْ تَصَبَّحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةً، لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سُمٌّ وَلاَ سِحْرٌ
“Barangsiapa mengkonsumsi tujuh butir kurma Ajwah pada pagi hari, maka pada hari itu ia tidak akan terkena racun maupun sihir”  (HR Al-Bukhari no. 5769 dan Muslim no. 2047 )
Beliau berkata,
فإن في ذلك وقاية بإذن الله من السم والسحر في ذلك اليوموهذا الحديث أصل في باب الطب الوقائي، وهو أنه تستعمل أدوية من أجل الوقاية من شيء قد يحصل، وهذا مثل التطعيمات ضد الأمراض
 “Hal tersebut merupakan bentuk penjagaan dengan izin Allah dari racun dan sihir pada hari itu. Hadits ini merupakan landasan mengenai “pencegahan penyakit dalam ilmu kedokteran”, yaitu menggunakan obat-obat tertentu untuk mencegah penyakit yang mungkin terjadi. Ini semisal vaksinasi dan imunisasi mencegah penyakit
Sumber:
@Pogung Lor, Yogyakarta, dr. Raehanul Bahraen

MENGGAGAS AKREDITASI RUMAH SAKIT SYARIAH


MENGGAGAS  AKREDITASI RUMAH SAKIT SYARIAH

Oleh : Safari Hasan, S. IP,  MMRS*)

*) a. Kabid Pembinaan Fasilitas Kesehatan Perhimpunan Profesi Kesehatan Muslim Indonesia (Prokami) Jawa Timur

b.Tim konsultan pada Konsultan Rumah Sakit Indonesia (KaRSI)

Isu pelayanan kesehatan yang Islami dan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah terus berkembang  di masyarakat dan menjadi wacana di dunia maya . Hal ini dikarenakan semakin banyaknya rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan yang  didirikan  dan berkembang luas dimasyarakat dengan label Rumah Sakit Islam.

Rumah sakit merupakan institusi kesehatan yang memberikan layanan preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif yang bersifat padat modal,  padat karya, dan padat masalah.

Meski di Indonesia sudah ada beberapa rumah sakit yang mengklaim  menerapkan prinsip-prinsip Syariah, namun sangat disayangkan hingga saat ini belum ada standar tentang pelayanan kesehatan yang Islami dan sesuai dengan prinsip Syariah di beberapa rumah sakit tersebut.

Urgensi Akreditasi Rumah Sakit Syariah

Akreditasi Rumah Sakit Syariah  adalah pengakuan oleh lembaga yang memiliki otoritas untuk  melaksanakan suatu penilaian terhadap rumah sakit dalam menjalankan prinsip syariah dan standar tertentu lainnya yang telah ditetapkan.

Adapun tujuan dari akreditasi Rumah Sakit Syariah diantaranya adalah;  (a) Memberikan jaminan bahwa institusi rumah sakit  yang terakreditasi telah memenuhi  prinsip syariah dan standar mutu yang ditetapkan oleh Pemerintah, sehingga mampu memberikan perlindungan bagi masyarakat, (b) Mendorong rumah sakit untuk terus menerus melakukan perbaikan dan  penyempurnaan serta mempertahankan standar kualitas yang tinggi,  (c) Hasil akreditasi dapat dimanfaatkan sebagai dasar pertimbangan serta pengakuan dari khalayak baik internal maupun eksternal

Melalui proses akreditasi rumah sakit  syariah  diharapkan dapat  dijadikan sebagai Sarana syiar dan dakwah ke Islaman yang rohmatal lil alamin, Meningkatkan kepercayaan dan  kepuasan masyarakat bahwa rumah sakit syariah  menitik beratkan sasarannya pada  kesesuaian dengan prinsip syariah, keselamatan pasien dan mutu pelayanan yang berkualitas serta Memberikan pengakuan  kepada  RS yang telah menerapkan standar akreditasi Syariah yang ditetapkan.

Pelaksanaan Akreditasi rumah Sakit Syariah

Pertanyaan yang mengganjal hati sebagian orang adalah, siapa yang melaksanakan akreditasi rumah sakit syariah? idealnya Penyelenggara Akreditasi Rumah sakit Syariah adalah sebuah Lembaga Independen yang dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang dan dalam tataran teknis melibatkan Majelis Ulama Indonesia, Asosiasi Rumah Sakit Islam, institusi pendidikan  kesehatan, praktisi dan akademisi  serta  asosiasi profesi lainnya agar memiliki payung hukum  serta kredibilitas yang kuat. Proses akreditasi dapat bersifat sukarela sesuai keinginan rumah sakit dalam rangka merebut pangsa pasar konsumen muslim.

Adapun aspek  akreditasi syariah yang dilakukan terhadap rumah sakit  meliputi: Aspek Administrasi dan manajemen rumah sakit (SDM, keuangan, pemasaran, stratejik, organisasi  dll), Aspek Logistik rumah sakit (bahan farmasi, makanan, bahan habis pakai  dll), aspek Pelayanan Kesehatan ( layanan medis dan layanan  penunjang medis) dan Arsitektur dan desain interior rumah sakit

Kendala pelaksanaan Akreditasi

Gagasan diatas bukanlah tanpa kendala, diperlukan proses yang panjang dan berliku untuk mewujudkannya. Oleh karena itu elemen masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit berbasis syariah dapat mengambil peran dengan menginisiasi pendirian Majelis Akreditasi Rumah Sakit Syariah.

Kesadaran pengelola Rumah Sakit Islam  terhadap   Akreditasi Rumah Sakit Syariah juga menjadi kendala tersendiri. Boro-boro Akreditasi Rumah Sakit Syariah,  hingga saat ini masih banyak Rumah Sakit yang enggan dan belum menjalan peraturan Pemerintah tentang Akreditasi Rumah Sakit dengan standar JCI padahal hal ini merupakan persyaratan wajib bagi rumah sakit.

Namun kita tidak boleh berkecil hati,  kembali lagi kepada umat Islam untuk memperjuangkannya,  kalau bukan kita siapa lagi? Dan kalau bukan sekarang kapan lagi?